Jumat, 02 November 2012

Ine Febriyanti Arahkan Anak-anaknya Belajar dari Alam

e7748 hiburan 1939592620X310 Ine Febriyanti Arahkan Anak anaknya Belajar dari Alam
JAKARTA. — Artis peran dan sutradara Ine Febriyanti mengaku melarang kedua anaknya terlalu banyak menonton tayangan TV, termasuk sinetron.
"Maaf, tapi saya melarang anak-anak untuk menonton TV dan sinetron terlalu banyak. Bagi saya itu memberikan efek yang tidak baik," ujar ibu dari Fa Aisha Nurra Datau dan Yan Rayn Abdullah Datau ini dalam wawancara di FX Plaza, Jakarta, Senin (27/6/2012).
Istri dari kamerawan Yudi Datau ini mengarahkan anak-anaknya untuk belajar dari alam atau menyaksikan pertunjukan seni seperti tetater dan pameran lukisan. Untuk sekolah mereka, Ine pun memilihkan sekolah alam. "Belajar terbaik dari alam, makanya saya lebih percaya mereka untuk sekolah di sekolah alam, karena alam sumber energi," jelas Ine, yang mengaku tidak mengarahkan anak-anaknya untuk memilih profesi mereka kelak.

Saling menanam dan menuai berkah. Belajar dari alam

Saling menanam dan menuai berkah. Belajar dari alam

4 Komentar
Siapa menanam, ia yang menuai hasilnya. Sama saja sih dengan kita menanamkan kebaikan. Tangan Tuhan pasti akan sampai juga entah lewat siapa. Eh, ini cuma perumpamaan. Yang jelas banyak hal yang kita bisa pelajari dari alam ini tentang bagaimana mendapat reward atau menuai hasil. Gak percaya? Banyak binatang yang dianggap rendah atau tidak dipedulikan oleh manusia (yang katanya khalifah di muka bumi) justeru perilakunya memberi kearifan tentang hidup ini. Hehehe, terlalu filosofis ya…. Barangkali…. Tapi apa artinya semut-semut yang ada di pepohonan?
Semut-semut

“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka.” (QS Sad : 27 )
Semut-semut tinggal di pucuk-pucuk pohon Macaranga dan terkena getahnya. Tetapi ini adalah getah yang memang diharap-harap sang semut sementara si Macaranga mendapat perlindungan dari semut terhadap para pemakan daun yang takut dengan semut. Jadi kedua pihak mendapat berkahnya. Macaranga mampu mempertahankan dirinya sebagai tumbuhan perintis, sementara semut-semut dapat hidup tenang dengan pasokan makanan yang teratur.
Masih ingat si pohon beringin yang seringkali dianggap angker itu? Keangkeran yang tak dipedulikan oleh berbagai satwa tetapi kedatangan para satwa yang menyukai buahnya ini sebenarnya menggambarkan suatu kerjasama yang baik. Buah beringin mengandung kalsium yang sangat tinggi, bahkan tiga kali lebih tinggi  dari buah jenis lain (baca di sini tentang Beringin dan kalsiumnya). Bayangkan, bahkan sebelum burung rangkong memberikan servisnya kepada si beringin dengan menyebarkan biji-biji beringin di pohon-pohon lain yang ditenggerinya, kandungan kalsiumnya sudah dapat diperolehnya. Itulah rewardnya, yang menjadikan rangkong kuat terbang dan telur-telurnya mendapat pasokan kalsium yang cukup dan menetas dengan baik.
Di malam yang kelam, para kelelawar terbang berseliweran. Kelelawar penyerbuk mampir ke bunga mangga, petai, atau durian untuk menyesap sedikit madu sambil menyediakan jasa membawa serbuk sari dan menyerbuki bunga di pohon yang lain. Sedikit madu memang kebutuhan hidup bagi kelelawar. Tetapi tanpa disadari, ada begitu besar kandungan gula yang ia serap begitu mudahnya.
Psychonotis piepersii on Asteraceae weed
Inilah suatu bentuk interaksi dan interaksi adalah salah satu proses ko-evolusi. Evolusi yang terjadi berbarengan antara dua pihak yang saling mempengaruhi. Antara bunga, burung, kupu-kupu, dan kelewar ada saling penyesuaian (baca di sini). Bunga-bunga yang dikunjungi kelelawar mungkin tak berwarna mencolok, tetapi berbau tajam, mekar di malam hari. Bentuk kepala si burung pijantung kecil (Arachnothera longirostra) dengan paruhnya yang melengkung dapat demikian tepatnya dengan bentuk bunga pisang yang tubular, sama seperti hummingbird dengan bunga Heliconia. Atau si kumpulan bunga soka yang juga berbentuk tubular dan sangat pas bagi belalai penghisap si kupu-kupu Papilio memnon, seperti bunga-bunga Asteraceae bagi si kupu-kupu mungil Psychonotis piepersii di rerumputan. Keduanya saling terkait, saling mempengaruhi, dan saling membutuhkan. Satu pihak tak ada, mungkin ada pihak lain yang mengisi ruang itu, tetapi mungkin pula terputus mata rantainya. Tak ubahnya dengan putusnya suatu rantai kebaikan………

Ilmu Falak

Ilmu Falak

Berikut adalah beberapa definisi Ilmu Falak dipetik dari buku Pengenalan Ilmu Falak, Baharrudin Zainal, DBP 2002.
* Ilmu Falak adalah salah satu cabang sains tabie (tulen).
* Ilmu yang mengkaji perjalanan badan-badan cakerawala seperti bumi, bulan, matahari dan bintang-bintang.
* ‘Falak’ dari bahasa Sumerian ‘pilak’ bermaksud sesuatu yang berputar.
* Dalam bahasa latin, astronomi – ilmu mengenai bintang.
* Hartmann 1987 : sains yang mengkaji objek-objek di angkasa.
* Al-Quran : benda yang beredar di langit – surah Yasin: 40 dan Al-Anbiya:33.
* Al-Biruni : sesuatu yang saling bertukaran.
* Ikhwan as-Shafa : ilmu yang mengkaji tentang tatasuria, menghitung jumlah bintang, mengukur pembahagian gugusan-gugusan bintan, jarak, saiz dan pergerakan badan-badan cakerawala serta mengetahui segala sesuatu yang berhubungan dengannya.
* Ibn Khaldun : ilmu yang mempelajari tentang pergerakan tetap bintang-bintang, sama ada yang bergerak atau berpusing. Gerakan-gerakan tersebut boleh diketahui melalui cerapan atau hitungan. Ilmu hitungan pula hendaklah berdasarkan kepada pengetahuan tentang ciri-ciri pergerakan dan kedudukannya.
Pengetahuan tentang definisi ini penting bagi membezakannya dengan aspek kajian bintang yang lain iaitu ‘astrologi’ atau ‘ilmu bintang pernujuman’.

Ilmu Falak Terpinggir?
Seorang yang mempelajari ilmu falak mengatakan beliau merasa terasing dalam dunia falak. Terasing dalam erti kata pemahaman tentang ilmu falak yang dipelajari, ternyata berbeza dengan pemahaman sebilangan masyarakat tentang ilmu falak.
Kitab bintang dua belas yang menjadi pendorong kepada ilmu perlangkahan dalam masyarakat dahulu, masih menjadi asas pemahaman sebilangan masyarakat tentang falak. Justeru ilmu falak masih dengan status – “meramal”.
Situasi ini mendorong sebilangan masyarakat memandang ilmu falak sebagai ilmu yang rendah, kerana mengandungi unsur ramalan dan jangkaan. Malah mungkin ada yang menganggapnya sama dengan ilmu nujum perbintangan (astrologi).
Ilmu falak gagal dipandang sebagai ilmu sains tabie, ilmu yang berasaskan pengkajian terhadap alam semesta yang sistematik menurut sunnatullah.
Hingga hari ini, ilmu falak masih gagal diterapkan dalam pembelajaran mana-mana disiplin ilmu, bahkan kekal sebagai satu disiplin berasingan, yang hanya diketengahkan oleh sebilangan yang berminat.
Sedangkan setiap urusan kehidupan umat, sama ada ibadat khusus atau tidak, akan tetap melibatkan ilmu falak.
1. Sistem waktu

Umat islam tidak mempedulikan langsung tentang sistem waktu, sekalipun al-Quran sendiri menyatakan bahawa watu solat itu ‘ditetapkan waktunya’. Namun aspek menjaga waktu dibiarkan sahaja, dan dipercayai bahawa sebilangan besar daripada umat islam, tidak tahu bagaimana waktu itu diukur dan ditentukan. Apalagi tentang bagaimana waktu solat itu diukur dan ditentukan?
2. Sistem tarikh dan takwim

Umat islam sekali lagi mengenepikan aspek kepentingan sistem tarikh dan takwim, apabila aspek tarikh dan takwim ini masih terumbang ambing dalam sesebuah negara, apalagi dalam hubungan antara negara. Sedangkan umum maklum tentang urusan puasa, zakat dan haji, malah urusan peribadi dan kekeluargaan seperti nikah, cerai dan rujuk, serta haid dan nifas, pasti melibatkan aspek tarikh dan takwim, yang sewajarnya diberi perhatian penting dan sebarang kekeliruan diatasi sehingga sistem tarikh dan takwim tidak diragui kesahihannya, yang tentu berhubung rapat dengan aspek kesempurnaan ibadat itu sendiri.
3. Fenomena alam

Apabila alam itu berfungsi dan beroperasi menurut sunnatullah, menurut sistem yang telah diatur oleh Yang Maha Kuasa, dengan ‘kebenaran’ menghitung bilangan tahun dan ‘hisab’, maka ‘penghitung’ akan menemui fenomena-fenomena tertentu dalam hitungan kedudukan cakerawala bagi penyusunan takwim, dan penentuan kedudukan jasad samawi yang lain, seperti fenomena gerhana (eclipse), ijtimak (conjunction), istiqbal (opposition) dan lain-lain fenomena, yang akan berlaku menurut turutan waktu yang tertentu, sama ada berulangan secara ‘banyak-banyak’, ‘jarang-jarang’, ‘sedikit-sedikit’ dan ‘kadang-kadang’. Namun tiada satu pun dalam falak fenomena ini dianggap luarbiasa atau ‘ajaib’, kerana luarbiasa dan ajaib hanya wujud pada fenomena yang berlaku secara ‘mukjizat’, ‘karamah’, dan sebagainya, bukan secara hitungan falak. Fenomena yang berlaku secara hitungan falak dianggap ‘kehebatan’ sistem alam semesta ciptaan Maha Agung, yang begitu terperinci, hingga memerlukan hitungan matematik dengan angka perpuluhan yang besar.

Rahasia di balik Nomor KTP Anda

Rahasia di balik Nomor KTP Anda

Bagi anda yang telah berumur 17 tahun atau lebih pasti anda telah memiliki atau paling tidak telah mengetahui apa itu KTP (Kartu Tanda Penduduk). Tapi mungkin kebanyakan dari anda belum mengetahui kalau hanya dari nomor yang terdapat di KTP anda, dapat menunjukkan dengan pasti dimana anda tinggal, jenis kelamin anda dan tanggal lahir anda. Sekali lagi saya tekankan hanya dari nomor saja tanpa melihat keterangan lain yang terdapat pada KTP anda.

Nomor KTP, disadari ataupun tidak, merupakan nomor yang begitu penting bagi warga Indonesia. Mungkin nomor KTP anda lebih penting bila dibandingkan nomor rekening bank anda. Tiap ada formulir yang mesti diisi oleh masyasarat, biasanya ada kotak tempat pengisian nomor KTP, entah itu formulir untuk penggantian kartu ATM, membuka rekening bank, membuat SIM ataupun formulir yang lain. Singkatnya, nomor KTP sangat penting bagi kita semua sebagai warga Negara Indonesia.

Nomor KTP yang kita miliki mempunyai 16 digit bilangan yang tersusun sebagai berikut:

PPKKCC.HHBBTT.RRRR

Keterangan Nomor KTP

PP adalah nomor kode Provinsi tempat dimana diterbitkannya KTP.
KK adalah nomor kode Kabupaten/Kota tempat dimana diterbitkannya KTP.
CC adalah nomor kode Kecamatan tempat dimana diterbitkannya KTP.

HH adalah tanggal hari lahir dari pemilik KTP.
BB adalah bulan lahir dari pemilik KTP.
TT adalah tahun lahir dari pemilik KTP.

RRRR adalah nomor registrasi yang tertera saat pengajuan pembuatan KTP (Register Number).

Nomer kode wilayah baik Provinsi, Kabupaten/Kota dan Kecamatan, masing-masing diambil dari nomer kode wilayah yang berdasarkan sistem klasifikasi dari Badan Pusat Statistik (BPS). Jadi misalkan, bila anda mengajukan permohonan pembuatan KTP di kecamatan Menteng, Jakarta Pusat. Maka 6 digit pertama pada nomor KTP anda adalah 317302. Dimana angka 31 menunjukkan kode wilayah Provinsi D.K.I. Jakarta, selanjutnya angka 73 menunjukkan kode wilayah Kota Jakarta Pusat dan angka 02 menunjukkan kode wilayah Kecamatan Menteng.

6 digit selanjutnya yang bertanda HHBBTT adalah tanggal, bulan dan tahun lahir dari pemegang KTP. Untuk 2 digit HH yang menunjukkan tanggal kelahiran terdapat sedikit perlakuan khusus. Dimana bila pemegang KTP adalah wanita maka tanggal lahirnya akan ditambahkan dengan 40. Alasan ditambahkan angka 40 adalah agar memberi perbedaan yang jelas. Dengan jumlah hari dalam satu bulan yang maksimal berjumlah 31, maka diambil bilangan yang lebih besar dari itu untuk memberikan perbedaan yang jelas. Misalkan jika ditambah dengan angka 20, seorang perempuan yang lahir di tanggal 5 jika ditambahkan 20 akan menjadi 25 yang akan rancu dengan seorang laki-laki yang lahir pada tanggal 25.

Sedangkan angka yang diambil untuk bagian TT adalah 2 digit terakhir dari tahun kelahiran pemegang KTP. Jadi bila pemegang KTP lahir pada 17 Agustus 1975 maka enam digit HHBBTT akan tertulis dengan angka 170875 bila ia laki-laki dan 570875 bila ia seorang perempuan.

4 digit terakhir bertanda RRRR adalah nomor registrasi. Ini adalah nomor yang tertera saat pengajuan pembuatan KTP. Nomor inilah yang menjaga agar tidak ada 2 orang yang yang tinggal di daerah yang sama serta memiliki jenis kelamin dan tanggal lahir yang sama mempunyai nomor KTP yang sama. Jadi kalau misalnya setelah si A terdaftar, ternyata ada orang lain lagi di Kecamatan tersebut yang ternyata mempunyai tanggal, bulan dan tahun yang sama persis dengan si A dan berjenis kelamin yang sama pula maka dia akan mempunyai nomor registrasi yang berbeda untuk membedakannya dengan si A.

Untuk "Daftar Kode Wilayah" dapat di-download di sini

Sumber : forum.vivanews.com

Cara Mudah Menentukan Arah Kiblat

Cara Mudah Menentukan Arah Kiblat

BANDUNG--Penentuan arah kiblat adalah pengetahuan paling dasar yang diberikan pada kuliah ilmu falak. Pemahaman tentang bumi yang berbentu bola dan penentuan arah di permukaan bumi dengan menggunakan segitiga bola selalu diaplikasikan pada penentuan arah kiblat. Ilmu falak sebagai bagian astronomi termasuk ilmu tertua yang dikembangkan para ilmuwan Muslim dahulu awalnya untuk keperluan ibadah. Penentuan arah dan waktu menjadi perhatian ilmu falak, karenanya sangat berperan dalam memahami dalil syar’i terkait dengan arah dan waktu.

Awalnya cara menghitung arah kiblat dianggap rumit, karenanya hanya ahli falak yang dapat melakukannya. Tetapi kini, dengan berkembangkan komputer dan bahasa pemrograman, hitungan tersebut mudah dibuat dalam bentuk program aplikasi sehingga setiap orang dapat menghitung arah kiblat. Tinggal diajarkan cara menentukan arah sekian derajat itu menggunakan kompas atau bayangan matahari. Adanya GPS untuk menentukan koordinat tempat dan berfungsi pula sebagai kompas makin memberikan kemudahan.

Ahli falak memberikan alternatif lain yang paling mudah. Kalau di Masjidil Haram ada menara sangat tinggi dengan lampu sangat terang di puncaknya sehingga semua orang di banyak negara bisa melihatnya, maka kita akan sangat mudah menentukan arah kiblat. Cukup dengan melihat lampu di atas Masjidil Haram itu. Nah, ahli falak mengetahui ada lampu alami yang sangat terang yang pada saat-saat tertentu tepat berada di atas MAkkah, sekitar Masjidil Haram. Itulah matahari.

Pada sekitar tanggal 28 Mei dan sekitar 15/16 Juli tiap tahunnya pada saat tengah hari di Mekkah, matahari tepat berada di atas kepala. Pada saat itulah orang di Makkah tidak melihat bayangan mereka sendiri karena matahari tegak lurus di atas mereka. Tetapi di tempat lain di dunia yang bisa melihat matahari itu, ada bayangan benda yang bisa dijadikan pemandu arah kiblat.

Saat itulah seolah kita sedang melihat lampu sangat terang di atas Masjidil Haram dan garis bayangan kita menjadi petunjuk arah Masjidil Haram. Maka, berdasarkan dalil syar’i, hadapkanlah wajah kita saat shalat ke arah itu. Itulah arah kiblat. Sangat-sangat mudah. Tinggal lihat matahari dan bayangan sekitar pukul 16.18 WIB (28 Mei) atau 16.27 WIB (15/16 Juli).

Kalau kita ingin melaksanakan dalil syar'i QS 2:144, itulah saat yang paling tepat. Tak perlu rumus perhitungan segitiga bola. Tak perlu komputer. Tak perlu kompas. Cukup melihat matahari, kita saat itu menghadap ke arah Masjidil Haram. Kalau pun pada hari tersebut terganggu awan, plus minus 2 hari dari tanggal tersebut dan plus minus 5 menit dari waktu tersebut masih cukup akurat untuk menentukan arah kiblat karena perubahan posisi matahari relatif lambat.

Dengan berkembangnya teknologi satelit dan internet, maka kita sekarang bisa menentukan arah kiblat langsung dengan melihat citra satelit di lokasi yang kita kehendaki. Situs www.qiblalocator.com memberikan tanda garis merah yang mengarah ke arah ka’bah di Masjidil Haram. Kalau kita menggunakan laptop, cukup bentangkan layar laptop sesuah arah bangunan atau jalan di sekitar kita yang terekam pada citra satelit. Arah yang ditentukan dengan qiblalocator telah dibuktikan sama dengan hasil perhitungan menggunakan segitiga bola atau dengan bayangan matahari pada saat istimewa tersebut di atas.

Ketika implementasi dalil syar’i QS 2:144 dapat dilaksanakan secara tepat dan mudah dengan bantuan sains (ilmu falak) dan teknologi, haruskah kita mundur ke belakang sekadar ”menghadap ke arah barat”? Mestinya tidak, kecuali dalam kondisi kita tidak bisa menentukannya secara tepat. Masyarakat kita semakin cerdas. ”Arah Barat” dalam bahasa fisis-teknis mudah diartikan sekitar titik matahari terbenam, sekitar azimut 270 derajat. Kalau benar fatwa ”menghadap barat” itu dilaksanakan, berarti fatwa menuntun orang untuk menghadap ke arah Afrika. Dengan pengetahuan geografi sederhana pun, orang mudah melihat arah Barat Indonesia mengarah ke Afrika. Bukankah itu justru mengingkari QS 2:144 yang memerintahkan menghadap ke arah Masjidil Haram di Mekkah?

Mengarah ke titik Ka’bah atau Masjidil Haram kini bukan lagi masalah dengan bantuan ilmu falak dan teknologi. Apakah kalau menghadap ke titik Ka’bah berarti shaf kita melengkung? Ibarat kita membuat lingkaran, di dekat titik pusatnya garis lingkaran tersebut sangat melengkung. Itulah yang terjadi pada garis shaf di dalam lingkungan Masjidil Haram. Semakin jauh dari titik pusat lingkaran, garis lingkaran tampak semakin lurus, nyaris tidak dikenali lagi bentuk lengkungnya. Demikianlah garis shaf di tempat-tempat yang jauh dari Mekkah.

Kita sering terbawa pada kerumitan matematis (yang sebenarnya tidak perlu) ketika menginginkan akurasi tinggi dalam penentuan arah kiblat. Kesalahan satu derajat di Indonesia (yang berjarak sekitar 8000 km untuk Jawa Barat) bisa menyebabkan penyimpangan besar di Mekkah (sekitar 140 km pada jarak tersebut). Hal serupa bisa kita balikkan. Kalau di Indonesia ada shaf sangat panjang sepanjang 140 km (sekitar jarak Jakarta-Bandung), untuk menghadap ke titik ka’bah arahnya akan sama dengan deretan orang memanjang ke belakang sampai jarak 40 meter dari ka’bah, dengan sudut hanya sekitar 1 derajat. Jadi jangan membayangkan bila menghadap ke titik Ka’bah atau masjidil haram seolah garis shaf akan melengkung.

Sumber :
Thomas Djamaluddin, Profesor Riset Astronomi-Astrofisika LAPAN
Republika Online, Jumat, 16 Juli 2010, 11:42 WIB

Pakar Ilmu Falak: Shalat Sah Meski Arah Kiblat Melenceng

Pakar Ilmu Falak: Shalat Sah Meski Arah Kiblat Melenceng

Sabtu, 17 Juli 2010, 05:27 WIB
.
Pakar Ilmu Falak: Shalat Sah Meski Arah Kiblat Melenceng
shalat
REPUBLIKA.CO.ID, SEMARANG--Ketua Umum Asosiasi Dosen Ilmu Falak Indonesia Ahmad Izzudin mengatakan meski patokan kiblat shalat umat Islam Indonesia selama ini dianggap melenceng oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI), shalat yang dilakukan tetap sah.

"Shalat kita selama ini tetap sah. Juga tidak mengurangi rukun shalat. Yang harus kita lakukan mulai saat ini adalah meluruskan arah shalat kita ke arah kiblat," katanya di Semarang, Jumat.

Menurut dia, ijtihad ulama berlaku untuk zamannya selama belum ada penemuan baru, sedangkan kalau ada penemuan dalam ijtihad terbaru, yang berlaku adalah ijtihad terbaru.

Ia mengatakan ralat Fatwa MUI Nomor 3 Tahun 2010 tentang arah kiblat menghadap barat laut itu dianggap langkah positif karena ilmu pengetahuan dan teknologi sudah menunjukkan pengetahuan baru itu.

"Indonesia itu letaknya tidak di timur pas Kabah tapi agak ke selatan, jadi arah kiblat kita juga tidak barat pas tapi agak miring yaitu arah barat laut," katanya.

Menurut dia, dalam melakukan shalat, umat Islam harus segera menyesuaikan arah kiblat tersebut. Artinya tidak lantas membongkar masjid untuk disejajarkan dengan arah kiblat, hanya saja ketika shalat, harus menggeser sajadah kita ke arah barat laut.

Meskipun begitu, kata dia, ketika membangun masjid baru juga harus menyesuaikan arah bangunan ke arah kiblat. Dengan harapan, ketika sholat sudah ada patokannya sesuai dengan bangunan tersebut.

"Sekarang banyak ahli falak yang bisa membantu mengarahkan arah kiblat masjid yang sejajar dengan arah Kabah," kata dosen Ilmu Falak IAIN Wali Songo Semarang itu.

Dia berharap, dengan adanya fatwa baru itu, umat Islam Indonesia ketika melakukan ibadah shalat segera menyesuaikah arah kiblat yang telah ditetapkan oleh fatwa MUI tersebut.

Hubungan antara Astronomi, Astrologi dan Ilmu falak


ASTRONOMI, ASTROLOGI DAN ILMU FALAK

Hubungan antara Astronomi, Astrologi dan Ilmu falak
Oleh:
Imroatul Munfaridah
Astronomi, falak dan astrologi merupakan istilah yang memiliki kedekatan dari aspek objek kajian, yakni mengkaji masalah yang berhubungan dengan benda langit meskipun terdapat perbedaan dalam orientasi, tujuan dan ruang lingkup kajiannya. Tulisan ini lebih lanjut akan menyoroti perbedaan dan hubungan ketiganya.
Astronomi adalah studi ilmiah terhadap benda-benda langit seperti bintang-bintang, bulan, planet, galaksi, materi gelap dan lain-lain yang dilakukan menggunakan metode scientific. Objeknya adalah fisik benda langit, proses terjadinya suatu benda langit, gerak, ukuran dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya. Basis ilmu yang mendukung studi astronomi antara lain matematika, fisika dan kimia. Di era modern ini astronomi didukung oleh berbagai sarana pengamatan seperti teleskop (optik dan radio) dan pesawat antariksa.
Berbeda dengan astronomi, astrologi memiliki keunikan tersendiri, yang karena keunikannya disiplin ini sering mendapatkan sorotan tajam dari dunia sains. Secara umum, astrologi adalah bahasa, seni dan ilmu pengetahuan yang mempelajari keterkaitan antara siklus benda-benda langit dan kehidupan manusia di muka bumi. Inti astrologi adalah berawal dari wawasan kosmologi manusia yang memandang adanya pengaruh peredaran benda langit terhadap kehidupan manusia di bumi. Pada tahapan ini wawasan kosmologi manusia masih diselimuti kabut mitos.
Mitos kosmologi ini telah berjasa membangkitkan perhatian yang besar manusia di masa lalu terhadap alam semesta khususnya benda-benda langit yang diyakini memberi pengaruh pada kehidupan manusia. Dari sini pengamatan secara terstruktur terus dilakukan hingga ribuan tahun. Hasil pengamatan astrologi ini pada gilirannya berhasil memetakan benda-benda langit yang dengan sentuhan metode dan pendekatan baru akhirnya melahirkan disiplin astronomi. Dengan demikian astrologi telah berjasa besar dalam meletakan fondasi astronomi.
Landasan astrologi sama seperti astronomi yang juga didasarkan pada observasi atau pengamatan. Itulah sebabnya astrologi di kalangan pendukungnya dinyatakan sesuatu yang memiliki landasan ilmiah yang sama dengan sains. Astrologi tidak ada hubungannya dengan dunia klenik dan mistik, sehingga seseorang yang berniat untuk mempelajari astrologi tidak perlu mempunyai indra keenam dan kekuatan ghoib seperti yang orang sebut kekuatan supranatural.
Di masyarakat luas, pandangan tentang astrologi umumnya selalu dikaitkan dengan ramalan, namun para astrolog sendiri lebih suka menyebutnya sebagai perkiraan atau prediksi. Sebagaimana ilmuwan memprediksikan cuaca atau seorang pialang saham memperkirakan nilai saham, demikian pula para astrolog berupaya memperkirakan peristiwa-peristiwa apa yang bakal terjadi di masa mendatang. Bedanya hanya basis data yang dipergunakan. Ilmuwan mempergunakan data-data iklim suatu negara sebagai tolok ukurnya, pialang saham memanfaatkan data-data fluktuasi harga saham dimasa lampau, sedangkan para astrolog menggunakan letak benda-benda langit sebagai acuan penelaahannya.
Astrologi itu sebenarnya tidak berhubungan dengan dunia mistik. Pembuatan peta langit astrologis tidak didasari oleh ilmu ghaib, tetapi melalui serangkaian perhitungan matematis dan astronomis yang rumit. Para astrolog semenjak zaman ribuan tahun yang lampau telah melakukan pengamatan terhadap posisi relatif benda-benda langit satu sama lain.
Astrologi bukanlah sains murni, tetapi ia merupakan perpaduan antara ilmu pengetahuan, seni dan filosofi. Astrologi ini mempelajari tentang pengaruh sitem tata surya pada beragam bentuk kehidupan dan efeknya pada manusia dan yang berkaitan dengan bumi. Astrologi juga memberikan panduan pada semua aspek kehidupan, harmonisasi pikiran, tubuh, jiwa. Astrologi memudahkan seseorang untuk memprediksi masa depan. Prediksi ini berdasarkan pengamatan, persepsi, perhitungan dan serangkaian uji coba. Karena sifatnya yang hanya prediksi, analisis dengan astrologi mungkin saja meleset, hal itu disadari karena alam memiliki keragaman hukum kausalitas yang saling bertautan dan rumit. Semakin banyak kemampuan manusia untuk mengidentifikasi dan memahami hukum kausalitas di alam semesta, akan membantu manusia untuk dapat melakukan rekayasa dalam kehidupan dan memanipulasi kondisi-kondisi buruk yang dipredikasikan akan terjadi. Di dalam astrologi manusia dipandang memiliki kehendak bebas dalam memanfaatkan berbagai energi di alam semesta ini dan pastinya ada yang terkandung positif atau negatif.
Astronomi juga berbeda dengan astrologi dari segi konsepsi grand theory. Teori astrologi bernuansa geosentrisme-anthromorfisme. Di sini bumi dipandang sebagai pusat dari alam semesta, dan benda-benda langit yang mengitari bumi masing-masing memberikan pengaruh pada kehidupan manusia yang hidup di bumi. Teori itu dalam perkembangan selanjutnya disanggah oleh Coppernicus yang mengetengahkan konsep bahwa bumilah yang sesungguhnya mengelilingi matahari dan mataharilah yang menjadi pusat alam semesta. Teori Copernicus yang disebut heliosentrisme mematahkan anggapan yang bertahan selama berabad-abad.
Inilah tonggak berdirinya ilmu astronomi yang kemudian disambut oleh masyarakat sedunia. Meskipun sebenarnya teori geosentrisme masih ada dianut oleh berbagai kalangan secara minoritas. Yang ingi penulis kemukakan di sini adalah bahwa Ilmu astrologi memberikan sumbangsih yang besar kepada perkembangan ilmu alam dan menginspirasi ilmuwan besar seperti Pythagoras, Plato, Aristotle, Galen, Paracelsus, Girolamo Cardan, Nicholas Copernicus, sehingga pada gilirannya melahirkan para astronom besar seperti Galileo Galilei, Tycho Brahe, Johannes Kepler, Carl Jung dan lain sebagainya.
Dewasa ini astronomi berkembang menjadi cabang sains yang bukan hanya mengkaji posisi dan pergerakan benda-benda langit, tetapi juga fisis dan evolusinya. Perkembangannya demikian pesat yang menimbulkan lahirnya cabang-cabang baru, misalnya astrofisika (menitikberatkan pada segi struktur dan komposisi fisis, bukan lagi posisi dan pergerakan benda langit), kosmogoni (menitikberatkan pada asal-usul dan evolusi tata surya), kosmologi (menitikberatkan pada asal-usul dan evolusi alam semesta), dan yang baru adalah bioastronomi (menitik beratkan kemungkinan adanya kehidupan di luar bumi). Teori-teorinya senantiasa diperbarui bila ada bukti-bukti lain yang menyempurnakan atau menggugurkan teori semula. Melalui astronomi, manusia mencoba mendeskripsikan apa dan bagaimana proses fenomena alam bisa terjadi dalam konteks eksperimen dan pengamatan, dengan parameter yang bisa diamati dan diukur, yang bisa benar bisa pula salah. Agama memperluas lagi spektrum makna alam semesta bagi manusia tentang kehadiran benda-benda alam semesta
Dengan demikian astrologi dan astronomi merupakan sebuah rangkaian perkembangan peradaban manusia yang perlu dilihat secara utuh, meskipun keduanya kini telah bercerai disimpang jalan. Mempelajari astrologi dan pembacaan horoskop tidaklah selalu merugikan dan harus dituding sebagai barang haram, sebab di balik itu semua ilmu astrologi menyimpan rahasia-rahasia dunia yang tak terjawab oleh astronomi, yang menanti untuk dikuak oleh manusia. Terlepas dari benar tidaknya anggapan bahwa astrologi adalah mitos, namun manusia secara nature tidak bisa melepaskan diri sepenuhnya dari mitos. Sejarah membuktikan betapa mitos diperlukan oleh manusia sebagai jawaban sementara sebelum sains. Mitos pula yang menggugah rasa ingin tahu manusia dengan hasrat yang begitu besar.
Ilmu Falak
Falak merupakan istilah arab (الفلك) yang diserap dari bahasa Babilonia yaitu fulukku yang berarti edar. Dalam berbagai literatur objek kajian falak sebenarnya sama dengan objek kajian astronomi, yakni benda-benda langit, termasuk dalam pembahasannya adalah keadaan benda langit, ukuran, jarak, posisi, gerak edar dan berbagai efek yang diakibatkan dari pola hubungan antar benda-benda langit tersebut, seperti gerhana. Dengan demikian menurut hemat penulis kajian ilmu falak pada dasarnya amat luas, sehingga dapat disamakan dengan kajian astronomi dan idealnya tidak perlu ada dikotomi antara astronomi dan ilmu falak, hanya saja dewasa ini di dunia Islam terminologi ilmu falak dipergunakan terbatas untuk keperluan ibadah seperti menentukan arah kiblat, waktu salat, puasa dan hari raya. Mengacu pada kenyataan dan praktik yang demikian maka dapat dimaknai bahwa falak merupakan astronomi spesifik dalam ruang lingkup kajian yang lebih sempit.
Dewasa ini, ruang lingkup kajian falak yang sempit perlu dikembalikan pada kedudukannya sebagai disiplin keilmuan yang sejajar dengan astronomi dengan obyek kajian dan terminologi tidak terbatas seperti sekarang ini. Para astronom muslim di masa lalu tidak membatasi ruang lingkup kajiannya pada bumi, matahari dan bulan yang tujuannya untuk kepentingan ibadah semata, tetapi mereka melakukan pengamatan dan penelitian benda-benda angkasa luar yang lebih luas lagi, berkaitan juga dengan teori-teori eksak dan alat-alat teknologi ruang angkasa. Salah seorang tokoh ilmu falak yang sangat berpengaruh di dunia Islam adalah al-Khawarizmi dengan karyanya al-Mughtashar fi Hisab al-jabr Wa al-muqabalah, sangat berpengaruh terhadap cendekiawan-cendikiawan Eropa. Buku tersebut diterjemahkan ke dalam bahasa latin oleh Robert Chester pada tahun 1140 M dengan judul Algebras et almucabala. Kemudian pada tahun 1831 M, buku itu diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Federic Rasen.
Selain Khawarizmi, tokoh astronom muslim lainnya adalah Abu Raihan al-Biruni, karyanya yang berjudul al-Qanun al-Mas’udi merupakan buku terlengkap mengenai astronomi pada masanya, karena menerangkan gerak planet-planet di angkasa raya. Karyanya yang lain berjudul al-Atsar al-Baqiyah, secara khusus membahas tentang rotasi bumi (yang pada waktu itu masih diperdebatkan) dan menetapkan dengan teliti garis-garis lintang dan garis bujur. Satu lagi tokoh yang terkenal adalah al-Haitsam dengan julukan bapak optik, salah satu karyanya adalah buku yang berjudul al-Muntakhab fi ’Ilal ’Ain, buku ini mengupas mengenai petunjuk perawatan mata, selain itu banyak artikel-artikel yang mengenai matematika, astronomi, fisika dan kedokteran.
Berdasarkan sumbangan ilmu pengetahuan para tokoh tersebut, sudah semestinya ilmu falak sekarang tidak membatasi luang lingkupnya pada kajian bumi, bulan dan matahari saja tetapi lebih diarahkan lagi kepada upaya pengembangan lebih jauh untuk melakukan observasi dan usaha-usaha yang lebih serius berkaitan dengan kajian ruang angkasa. Kajian falak harus sejajar dengan astronomi dalam objek dan ruang lingkupnya. Falak hanyalah adalah pintu masuk untuk memahami dimensi alam semesta yang lebih luas lagi.
Semarang, 25 Mei 2010
Farida

4 komentar:

  1. Assalamu alaikum wr.wb.
    kami, khususnya saya pribadi sangat berterimakasih kepada Uhti atas penjelasan falaq, rasanya saya tertarik untuk belajar alam falaq yang lebih jauh, untuk itu saya mohon info apakah dari s1 matematika bisa melanjutkan S2 alam falaq, terima kasih wasalam
    Balas
  2. trimakasih akhi..smg bermanfaat....saya blm dapat info ttg s2...sabar ya...qt bs saling share lewat blog akn menambah keilmuan qt jg...mknya sy jg minta saran dan kritiknya..trims
    Balas
  3. trimakasih ukhti semoga dbls y sma yg diatas

    dari sayfudin d sbya
    Balas
  4. Musonnif ahmad28 April 2011 19:09
    assalamu alaikum
    Bagus banget Tulisannya, lebih bagus lagi kalau dikasih Footnote and Daftar kepustakaan, biar sumbernya jelas githu.Fotonya juga bagus. Good luck. minta izin ngutip yaa.